Senin, 24 Agustus 2015

Siapa Saya?



Saya merasa agak berat jika menjawab pertanyaan "siapa kamu?". Sebab, pertanyaan ini adalah pertanyaan filosofis. Mungkin bagi orang biasa, pertanyaan ini hal yang mudah dijawab. jawabnya kadang menyebutkan nama saja; identitas diri yang mudah dikenali orang lain.

Seorang teman mempertanyan itu,  dengan cepat saya menjawab nama. Kemudian dia melemparkan tanya kembali, "saya tidak menanyakan siapa namamu, tapi yang saya tanyakan siapa kamu?". Saya berfikir sejenak tentang hal tersebut. Dan saya menyadari bahwa saya sangatlah tidak mengerti diri sendiri yang sebenarnya. Apakah saya adalah hamba tuhan? Tapi kalau saya tidak diperkenalkan agama sejak kecil, maka saya tidak akan mengatakan bahwa saya adalah hamba tuhan. Dan jika saya jawab dengan nama yang diberikan orang tua, tentunya itu sesuatu yang diberikan orang lain selain diriku untuk memudahkan orang lain mengenali saya.

Saya sungguh dibuat bingung menjawabnya. Mengenali diri sendiri saja tidak, apalagi mau mengenali siapa yang menciptakan, menghendaki saya untuk hidup, dan apa tujuan saya dihidupkan di dunia yang penuh duka. Saya pun tidak pernah minta untuk hidup di dunia ini. Kalau tahu hidup seperti ini, saya tidak akan meminta untuk dihidupkan, sungguh! Masalahnya, banyak yang harus diperjuangkan, diusahakan, dan lain-lain, yang membuat saya merasa jenuh dengan kehidupan. Apalagi, dogtrinitas agama, paham-paham yang dimunculkan oleh orang-orang tentang suatu konsep atau gagasan ideologi, membuat ada  sesuatu yang mengikat dalam diri saya. 

Disuruh ini-itu agar nanti bahagia, dikehidupan selanjutnya akan enak; masuk tempat yang diidolakan oleh manusia agamis, yakni surga, taman edan, nirvana, dll. Kebenaran itupun sempat saja saya pertanyakan, "apakah yang saya lakukan benar-benar perintah dari tuhan? Kok seperti budak saja saya harus melakukan sesuatu yang tidak awalnya tidak saya kehendaki. Aneh, bukan? Saya ada, tidak pernah minta, lalu kenapa saya disuruh ini-itu? Harusnya yang meng-ada-kan saya harus memenuhi apa yang saya suruh, karena saya tidak sama-sekali berkeinginan untuk diciptakan. Karenanya, yang menciptakan saya harus memenuhi kebutuhan hidup di dunia.

Perihal tentang "siapa saya" yang masih absurd dijelaskan. Kata-kata bijak orang-orang sufi; bahwa siapa yang mengenali dirinya maka akan mengenali siapa tuhannya. Dengan cara apa saya bisa mengenali diri saya? Dengan jawaban eksternal, atau yang internal diri? Nah, itulah yang harus dapat saya temukan dan oleh setiap orang. Karena dengan menganali diri, maka segalanya akan mudah dikenali. Dari apa yang dilakukan hingga hakikat dari apa yang dilakukan.

Untuk diri saya sendiri, ada sebuah pemikiran yang sedikit mencerahkan: kalau tuhan ada dan menciptakan segala yang ada, tidak mungkin ia menciptakan sesuatu dari selain dirinya. Karena jika menciptakan dari luar dirinya, dipastikan ke-maha-annya tidak bisa disandang, sebab ada hal lain yang juga ada selain dirinya. Ada hal yang juga ada bersamaan dengan keberadaannya. Dan manusia ada tidak mungkin diciptakan dari sesuatu selain tuhan. Jadi manusia adalah bagian dari diri tuhan sendiri.

Kalau seperti itu, apakah manusia adalah bagian dari dzat tuhan? Bisa jadi seperti itu. Alam dan seisinya tercipta dari bagian diri tuhan. Untuk itu, diperlukan sebuah pemahaman bahwa segala sesuatu adalah bagian dari kita; satu kesatuan yang pada awalnya adalah satu, yakni dzat tuhan. Yang kemudian tercipta menjadi beragam dan membentuk sesuatu yang dapat kita kenali sekarang: alam yang isinya beragam bentuk. 

Jadi jelas bahwa kesadaran tentang 'satu kesatuan diri' menjadi sesuatu yang perlu saya rasakan, pahami, dan mengaplikansikannya dalam kehidupan. 

Mungkin akan timbul pertanyaan kembali tentang itu, "apakah yang kita lakukan baik atau buruk adalah kehendak tuhan, atau pribadi?" Menurut saya, tentang pengendalian diri adalah pribadi, sebab apa yang saya lakukan adalah atas kehendak kita. Dalam ajaran buddha, pemilik seutuhnya diri adalah diri sendiri(pengendali sepenuhnya), tuhan sebagai pemilik kendali yang kedua. Karena kita ada, khususnya saya, melakukan apa yang saya lakukan dengan kemauan pribadi; namun tidak semaunya sendiri. Masih ada hal yang membuat diri saya memikirkan hal baik-buruk untuk dilakukan. Karena penilaian baik-buruk, menurut Dhurkeim pun, ditentukan oleh norma-norma yang ada ditengah masyarakat. 

Oleh karena itu, alam semesta dulunya ada satu-kesatuan dalam diri tuhan, kemudian tercipta beragam makhluk darinya. Jadi untuk saat ini, saya dapat mengatakan bahwa saya adalah bagian dari alam, juga bagian dari tuhan. Manuggaling kawulo gusti, mungkin seperti itu kata orang jawa dalam memaknai hakikat diri.

Jika saya adalah bagian dari dzat tuhan, lalu siapa kamu?


Jogja, 25 Agustus 2015


Bumi

Daun mulai berguguran ke tanah yang gersang,
Dan angin yang berhembus memercikkan api.
Lalu membara diatas puing kayu yang malang nasipnya.
Ratapan sepi angin memuja tanah yang dibanjiri bara merah,
Kemudian kayu yang terbakar hanya menyisakan tangis bumi.

Dimana kalian yang pernah mencintai dengan hati?
Rasa peduli yang tertempel di baju-baju berlabel mahal,
Apakah hanya kata saja, dan pemuas nafsu belaka?

Kalian adalah bagian darinya,
Yang tak pernah berhenti mengais sesuatu yang tumbuh dari perutnya.
Bumi, tak pernah berhenti menjadi kambing,
Seketika waktu berjalan tubuhnya terus diombang-ambing.
Karena kebosanannya, dia menunggu api membanjirinya,
Mengharap air segera meraup wajahnya.
Hingga pada suatu masa matahari kembali meratapi tangisnya.
Dan bumi berkata: aku tlah memberimu segalanya. Namun kenapa aku selalu dibuatmu sangat dekat dengan kematianku?

Jogja, 25 agustus 2015


Rabu, 12 Agustus 2015

Capung Yang Kian Menghilang


Sudah lama saya tidak melihat kupu-kupu dan capung bertengger diatas daun-daun yang hijau dan bunga-bunga yang tumbuh menghiasi jalanan. Apakah populasinya sekarang sudah menurun ataukah sudah punah? Saya tidak tahu harus menjawab apa. Namun, memikirkan hal itu di warung kopi, membuat saya teringat kembali masa lalu sewaktu masih bisa bermain sepanjang hari di sawah, hingga matahari di ufuk barat memacar cahaya kemerah-merahan: pertanda waktu bermain sudah habis. Jika tidak segera pulang, laksana jeweran dari tangan nenek, atau juga bibi menempel di telingaku. Kalau tidak seperti itu, biasanya hanya dimarahin.

Semakin dewasa, semakin pula masa kanak-kanak akan menjadi kenangan yang indah nan tak terlupakan. Seorang teman dari semarang pernah berkata: masa terindah adalah masa sekolah. Tetapi bagiku, masa yang paling indah adalah masa sewaktu kita masih kecil. Sebab masa sekolah adalah masa dimana peraturan yang membuatku merasa seperti robot. Mungkin yang membuat pikiran temanku terkesan dengan masa sekolah hanya soal pertemuan dengan kekasih; itu saja, mungkin.

Masih tergiang dalam ingatanku; siang berlalu, hari menyambut sore, saya bersama teman berlalu-lalang dengan sepeda bewarna orange yang dibelikan ayah karena rengek'anku tak kunjung usai, sebab melihat teman sebaya mempunyai sepeda juga. Membuatku iri. Sebelum pulang ke kalimatan, dengan baik hati, ayah membelikanku sepeda. Maklum, kata ayaku, kecil sudah jauh dengan orang tua sedikit banyak harus dituruti permintaannya. Bahkan pada saat saya minta untuk dibelikan mobil remot, ayah juga menurutinya. Tentu dengan timbal baik: selalu belajar hingga menjadi orang yang pintar. Tetapi, sampai saat ini saya belum juga pintar. Maaf ayah, saya belum bisa membuatmu bangga.

Di samping sawah dekat dengan lahan luas--yang sekarang sudah ditanah beton--saya memburu capung dengan kayu panjang yang ujungnya diberi getah pohon. Semak-semak yang timbuh dipinggir lahan tersebut, terdapat banyak capung. Dan binatang yang serangga berwarna kuning keemasan juga hadir mengindahankan kampung halaman saya. Sehingga, anak kecil seperti saya dapat bermain riang, sepanjang hari tanpa ada kesibukan yang membuat saya pusing.

Di lahan yang berdampingan dengan sawah, ada sungai dan kuburan. Disitulah kami, memburu capung. Berlari-lari, lalu berhenti lagi, terus menitih langkah kaki bak seorang ninja yang berjalan laju tanpa meninggalkan bunyi yang nyaring. kami bersigap pasang mata tajam ke segala sudut arah daun-daun. Jika target telah nampak, secepat kilat kayu panjang tadi menyambar tubuh capung tersebut.


Capung macan namanya; berkulit warna hijau loreng-loreng, dan bisa menggigit adalah target yang paling ganas, anggap kami saat itu. Masalahnya, capung yang lain, sangat gampang diperoleh. Tanpa harus mengunakan senjata, dengan tangan biasa pun mudah menangkapnya.

Setelah mendapatkannya, ekor capung saya ikat dengan benang jahit. Kemudian dilepaskan terbang ke udara, dan kami bersama mengejarnya. Namun, kalau lagi datang rasa belas kasihan, kami lepas langsung tanpa mengikatnya. Semua itu tidak lain bertujuan mengisi waktu bermain; semestinya begitu bagi anak kecil.

Itu masa kecil saya bersama teman-teman yang aneh dan unik. Sekarang, saya hidup diperkotaan merindukan masa seperti itu. Tetapi, saya sadar bahwa masa itu tidak akan terulang kembali. Hanya saja, saya perihatin dengan kondisi lingkungan yang hari demi hari mulai ditumbuhi gedung-gedung, yang membuat eksistensi hewan yang pernah menghibur masa kecilku cepat punah. Bahkan sudah beberapa tahun ini, saya tidak lagi melihatnya. Ah, kau menghilang kemana, duhai sahabat kecilku.

Di warung kopi, saya hanya dapat mengingatnya, tapi tidak dapat meilhat capung dan kawanan serangga yang lain.

Jogja, 12 Agustus 2015