Tampilkan postingan dengan label Senandung Kata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Senandung Kata. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Agustus 2015

Bumi

Daun mulai berguguran ke tanah yang gersang,
Dan angin yang berhembus memercikkan api.
Lalu membara diatas puing kayu yang malang nasipnya.
Ratapan sepi angin memuja tanah yang dibanjiri bara merah,
Kemudian kayu yang terbakar hanya menyisakan tangis bumi.

Dimana kalian yang pernah mencintai dengan hati?
Rasa peduli yang tertempel di baju-baju berlabel mahal,
Apakah hanya kata saja, dan pemuas nafsu belaka?

Kalian adalah bagian darinya,
Yang tak pernah berhenti mengais sesuatu yang tumbuh dari perutnya.
Bumi, tak pernah berhenti menjadi kambing,
Seketika waktu berjalan tubuhnya terus diombang-ambing.
Karena kebosanannya, dia menunggu api membanjirinya,
Mengharap air segera meraup wajahnya.
Hingga pada suatu masa matahari kembali meratapi tangisnya.
Dan bumi berkata: aku tlah memberimu segalanya. Namun kenapa aku selalu dibuatmu sangat dekat dengan kematianku?

Jogja, 25 agustus 2015


Kamis, 02 Juli 2015

Bukan Kertas

Sayup-sayup dingin dipertiga malam yang terhampar cahaya purnama
Kesemuan segala angan, terlukis dalam keindahan malam
Bintang-gemintang turut hadir menghibur setiap pasang mata yang memandang
Lalu antara kepala satu dengan lain saling beradu nasip
Ada yang ke utara; mencari kebahagiaan di ladang salju yang gelap
Ada yang ke timur; mengais bening air di kolam mata air
Ada yang ke selatan; berlari dari keramaian demi mendapatkan kesunyian
Ada yang ke barat; meluluhlantahkan keringat dan menghumbar semerbak harum bunga di segala penjuru arah untuk sebuah kertas yang tiada arti
Ya, kertas yang selalu kau cari diujung mimpi..
Bukan rasa bahagia yang didapat saat curah kasih senyum menampar segala muka
Bukan pula derai air mata yang jatuh sebab melihat sahabat yang telah kehilangan cahaya dalam dirinya
Namun cinta: rasa yang selalu dijunjung tinggi melebihi kebenaran itulah yang kita, kau dan segenap alis yang tubuh dimatamu itu, kawan, yang akan selalu inginkan

Kita selalu berhadap-hadapan...

Dua garis hitam diatas bola mata, serupa sedadu yang melepas pelurunya dari senjata, mulai beradu
Kemudian malam mulai menyimpan kembali keindahannya dari setiap mata manusia

Pagi tiba dengan cahayanya...
Indahnya, membuat kagum bayi yang baru lahir ke dunia
Namun tak ada nyanyian burung lagi, dan tak ada suaramu yang berdenging lagi di pagi hari
Tetapi hitam bayangan tubuhmu yang terhempas cahaya mentari, kawan
Telah menyadarkanku bahwa dunia tak sekedar kertas yang dapat diremas oleh tangan yang tergenggam keras

Jogja 3 Juli 2015

Sabtu, 20 Juni 2015

Aku Menunggu Kematian

Aku menunggu kematian..

Kujemput ketakutanku tentang itu
Saat hati merasakan takut pada niscaya
Ada orang yang berdiri diatas mimbar menawarkannya
Namun ketakutan telah kubunuh secepat cahaya

Aku ingin menyambut kematian...

Tak getar urat ketakutanku sebelum tertancap palu
Pernah mereka menakutiku!
Ancaman tajam rajam menungguku didepan mata
Itu hanyalah bualan yang dijual yang aku pun tak percaya


Aku menantang kematian..

Ketika gelap membawa obor yang berkobar api
Surga dilukis seindah mungkin sebagai penganti
Dalam tanah yang subur ditumbuhi bunga kamboja
Pertanyaan berduri memaksaku menjawabnya

Aku tak mau takluk pada kematian...

Kodrat terselimuti kepastian yang membuat ragu terbang
Kembali ucapan dalam kata datang membuat bimbang
Lalu kiaskan gambar ketakutan di wajah orang-orang 
Hingga menitih tangis dalam do'a setiap malam dipajang

Aku tak mau kematian menghantui...

Sebab ada yang tak mau anggun berubah menjadi rabun
Sebab diri yang dihasilkan cahaya selalu abadi
Kemudian membuat aku tetap berdiri diatas sehelai rambut 
Dan jika kematian datang maka akan kusambut


Wonosobo 20 Juni 2015

Jumat, 19 Juni 2015

Tentang Kita

Tentang kita, ada segerombolan manusia yang terusir dari tanahnya

Tentang kita, ada segerombolan ibu yang terasing dari tanahnya

Tentang kita, ada seorang yang mati dibunuh seorang tentara

Tentang kita, ada pentani yang dihajar oleh pasukan pengaman dirinya

Tentang kita, ada anak yang mati karena perebutan harta

Tentang kita, ada yang tidak dapat jaminan hidup karena tidak menganut agama impor

Tentang kita, ada yang segerombolan orang terusir sebab dianggap sesat

Tentang kita, ada yang katanya percaya perbedaan tapi tetap membunuh sesama manusia namun yang berbeda

Tentang kita, ada segerombolan orang asing yang merusak alam kepunyaan orang

Tentang kita, ada pemimpin yang menaruh nama diatas rakyat yang hampir menjadi mayat

Tentang kita, ada wanita yang di bunuh kemudian diperkosa karena hasrat uang sepuluh ribu

Tentang kita, ada raja yang mempertaruhakan sabda-sabda busuk untuk  melanjutkan tahtanya

Tentang kita, ada lahan yang akan digantikan gedung ala pusat penerbangan mewah

Tentang kita, ada pertempuran disidang pengadilan yang main sodor-sodoran kekuasaan

Tengang kita, ada orang banyak yang dikelabui tayangan wayang di layar kaca

Tentang kita, ada banyak cerita yang tidak pernah diceritakan dan tidak akan diceritakan sebab cerita kuno dianggap cerita yang datang dari cerita yang tidak dihendaki datang dan cerita yang baru dianggap paling menyenangkan dan akan banyak menghasilkan uang dari pada cerita yang bercerita tentang kita, kita yang dianggap telah usang jika ditulis dalam cerita yang akan disampaikan ke waktu yang akan datang. 

Jogja 19 Juni 2015

Senin, 15 Juni 2015

Cerita Dua Pasang Bola Mata

Ada ranting pohon yang patah saat matari tumbuh dewasa.
Ada pula daun yang gugur tak kala angin berdansa,
sejak melihat dua pasang bola mata berlagak cemas,
menghampiri kobaran api.

Ini cerita sekaligus candu ketakutan akan semua ilusi yang tercipta.

Entah siapa yang memulai,
tapi mundurnya waktu tidak mampu menjawab riuhnya suara tabuhan gending perang.
Mulai lah kaki-kaki berjalan menuju lapangan,
seraya berucap nama yang tiada wujud itu di alam bebas.
Lalu banyak tangisan anak kecil yang melepas kepergian bapak-bapak,
yang membawa obor kematian!

 Para istri yang duduk di antara daun yang berserakan di tanah,
menjadi janda dan menangis tersedu-sedu melihat gajah itu menjadi bangkai.
Sebab ganasnya api membuat tubuh menjadi debu,
kemudian hamparan bau surga menantinya esok hari.

Matahari mulai terbit lagi.

Tidak seperti hari kemarin yang bercerita tentang kesedihan batu karang,
sedikit demi sedikit terkikis obak, tetapi lamunan bumi yang disiram darah,
saat ini terus menangis bernada pilu.
 "Kamu dimana?" Pertanyaan kaku anak kecil yang sedang diselimuti rindu,
terbang tak tentu arah, karena tujuan utamanya tertutup kabut,
yang kemudian menghilang.

Cerita ini akan ditutup karena ada parit menghalagi jalannya waktu.
Air mengalir, menjadi kata yang hilang oleh ucap-ucap deras wujud kosong,
wuujud pada dua pasang bola mata itu.

Jogja 16 Juni 2015

Senin, 25 Mei 2015

Bersulanglah Kawan



Sederet kata mulai bergerak membangun cerita
Tinta hitam menguak perasan yang pernah ada
Tertulis indah dunia hijau yang menjadi petang
Gelap-gelap, kita bersama menuju terang

Bersulanglah kawan..

Sebongkah batu di pantai yang mulai hancur
Terhempas ombak bertengger diatas pasir putih
Datang iblis dengan segala keangkuhan
Pedang berlumuran darah telah terpangpang di awan

Syahdu nada becerita tentangmu, iblis dan desiran ombak
Haluan kapal-kapal menembus badai, adalah kau yang berjuang
Saat petir dan mendung hitam berpesta
Keringatmu bercucuran menantang gelap
Teman, tidakkah rembulan masih menyinari wajahmu
Rintik-rintik sinar mentari menjatuhi setiap hati yang menyatu

Kawan...

Andai dirimu tetap berada disampingku
Andai jiwamu masih menyatu denganku
 Maka kita masih bisa menikmati pasir putih bersama
Kita masih bisa berpesta sinar rembulan di singgasana

Jogja, 25 Mei 2015

Sabtu, 09 Mei 2015

Jika Aku Adalah Hujan

Jika aku adalah hujan, maka aku akan membasahi anggur-angur yang bisa memabukkan

Jika aku adalah hujan, maka aku akan selalu menetes di atas daun-daun yang hijau

Jika aku adalah hujan, maka aku akan ada ditengah tanah yang gersang

Jika aku adalah hujan, maka aku akan menghidupi setiap tumbuh-tumbuhan

Jika aku adalah hujan, maka aku akan menari disetiap kegembiraan manusia

Jika aku adalah hujan, maka aku akan berputar-putar dialur sebab kejadian

Jika aku adalah hujan, maka aku akan membaur bersama keindahan seluruh alam

Jika aku adalah hujan, maka aku akan ikut serta menari bersama tawa tuhan

Dan jika aku bukan hujan, maka senantiasa aku akan merindukan tiap tetesan hujan


Jogja 9 Mei 2015

Selasa, 09 Desember 2014

Detik Akhir


Akhir sewaktu jantung berdetak bersamamu
Disinggasana dunia, hanyalah impian yang telah memfosil
Hingga dunia baru terlahir karna ada keingkarnasi waktu
Yah, kita memang bicara waktu dan ruang berbeda
Tapi dulu telah menjadi takdir yang tidak bisa berubah
Ruang dan waktuku sekarang berbeda

Ketika semua orang berbicara tentang dunia, tapi aku berbicara masalah waktu yang diam
Seakan semua kebahagiaan terhimpit zaman kegelapan
Kakiku hanyalah alat untuk mencari kebahagiaan
Namun tak terbersit sekatapun dalam pikiran jernihmu
Diam tidak kau pahami dan memang tingkah tidak selalu bisa ditafsiri
Sajakku adalah kata mati, tak seorangpun bisa menafsirkan dengan tepat
Tak perlu bicara diam yang membuat pikiran melayang-layang
Cukup ruang dan waktu yang diam yang harus dimengerti dengan hati
Kita bicara hati, ya kita memang berbicara masalah hati
Hati yang busuk tapi aku juga tidak mengerti tentang isi hati

Sampai kapanpun kebohongan berulang-ulang akan jadi sebuah kebenaran
Cukup alasan di siang ini saja menjadi saksi
Karna aku tak percaya definisi hatimu
Karna aku tak mungkin hidup semalanya dalam duniamu
Karna suatu saat dunia akan terbelah menjadi dua
Aku di barat dan kau di timur sana
Tembok berlin akan menjadi pemisahnya
Aku terkurung suasana alam raya dan kau hidup abadi selamanya
Terima kasih atas ruang dan waktu yang sekarang telah membisu
Darimu aku belajar banyak tentang segala sesuatu.

Minggu, 16 November 2014

Menunggu Hujan

setetes embun akan terpisah dari cahaya pagi
meneteskan senyum bersama terik sinar mentari
akankah kau kan datang kembali bersama senyummu?
ataukah kau kan pergi sambil bernangis pilu!

sore hari kau datang menghampiri menyambut hujan
membekaskan kebahagian yang telah lama gersang
hingga terbendung menjadi sebuah irama kebahagiaan
namun luka mungkin terobati, tapi api akan terus menerjang

malam hari kau yang ditunggu tak kunjung tiba
apakah harus aku menunggu embun atau hujan kemali?
agar ladang kebahagian ini kembali bersemi
menghiasi bunga kerinduan yang akan terus dinanti

nanti? ataukah sampai esok hari dingin ini terus mencekam
menunggu selukujur tubuhku membeku karna kedinginan
karna kehangantan cintamulah yang akan selalu  tergenggam
tapi banyangan itu terus menggangu hingga aku kesepian


Kediri 17-03-2014 19:24

Hilang Tak Membekas


Bau wangi  mengalir bagai air menuju muara
Tapak kaki, dulu, meninggalkan bekas setelah kaki diangkat
Pisau dapur yang tajam,  mulai mencincang.
Jejak tapak kaki yang telah dibuat, telah  menjadi singgasana

Hilang!

Air yang menuju muara seakan telah terpendam oleh bencana
Keindahan dan kemurnian seakan hanya mitos yang melegenda
Alam seperti apa yang tega menindas jejak telapak kaki
kemudian, Singgasana dewa-dewi terkubur oleh modernisasi tradisi.

Yogyakarta 15 oktober 2014

Sabtu, 28 Juni 2014

Suara Di Kesunyian

Suara..
Suara malam tak seindah kemarin, sayang!
Kutipan kutipan gemuruh angin berjalan menghentakkan
Telinga mendegarkan setiap denyutan nadi yang kosong
Bukan saja nadi tapi sejuta teriakan hati melong-long

Irama..
Irama sunyi ini menggugah hati nurani dan jiwa
Mengajak bernyanyi dengan lagu-lagu derita
Dan larut bersama air yang mengalir ke muara
Dipinggiran sungai yang beriak, hati ini terus bersuara

Terpaku..
Terpaku dalam diamnya malam yang semu
Bersama jenuh dan rasa kesal memeluk jiwa
Hantarkan raga ini ke jalan yang penuh kegelapan
Lalu bukalah kekosongan ini dengan perdamain


Jogja 29/06/2014 2:43 AM

Kamis, 03 April 2014

Waktuku

Langit cerah setelah mendung datang menghujani tanah

Butiran mutiara terbelah oleh keangkuhan amarah

Dulu kegelapan menyelimuti seluruh  cakrawala

Datang dan pergi setiap dua hari sekali

Selalu begitu saja, entah apa yang telah terjadi

Bumi tak sadar begitu juga lagit seterusnya membisu

Hanya gemuruh suara angin terus menghapiri sepanjang waktu

Kapan titik cerah akan datang dan menerangi?

Hari demi hari burung terus terpaku menunggu datangnya itu

Apakah masih perlu meunggu sang Hyang mengilhami?

Ini dan itu selalu saja ada sambaran petir di langit

Bukannya menjadi berkah, tapi itu menjadi penyakit

Ya, itu penyakit, membusuk seperti penyakit kulit

Ini bukan di kulit tapi di setiap ruang isi hati

Hati yang selalu membanggakan kesombongan itu

Busuk kawan! salah jika mengatakan itu cinta, tapi itu nafsu

Wahai waktu yang terus membisu.....

Sembilah puluh hari langkah ini berjalan terus dan semakin menjauh

Mendekati ajal di ujung kepedihan yang teramat pilu

Diawali hari kamis yang tersenyum kepada ciptaan Tuhan

Dan kapan akan berakhirnya sekenario tuhan ini?

Tentang perjalanan hidupku, kau,dia, dan mereka

Hingga hari-hariku termakan oleh sang waktu

Dan aku menunggu alam menyapaku disaat ajal menjemputku


Kediri,  01/04/2014 20:17