banjir hanyutkan penghuni negera indonesia
binasakan nyawa mereka menuju ujung muara
teruslah hujani ribuan pulau ini
teruslah goncang tanah pertiwi
sampai kau bosan tuhan..
sampai kau dapatkan apa yang kau inginkan
mereka kehilangan harta dan keluarga
yang membuat mereka harus menderita
pada hari ini tangis anak negeri membahana tinggi
tetesan air mata ketika melihat manusia tampa nyawa
hinggap di depan mata, kini sudah tiada guna
apakah ini sebuah cobaan yang kau beri?
ataukah sebuah pelampiasan rasa benci?
entah, aku tak tau dan tak mau tau
namun derita ini sudah cukup melukai
jangan kau beri lagi kepada negeri yang kucintai ini
Pare 05/02/2014 0:15
Jumat, 07 Maret 2014
Persetan dengan semua
Posted on 09.50
by Baim Muhammad
persetan dengan semua...
nafsu yang terus membelengu
membuatku hilang kesadaran
seperti anak yang dungu
linglung tampa arah tujuan
persetan dengan mereka...
hanya urusan duniawi yang ada dalam pikiran
uang jadi alasan untuk sebuah kebahagiaan
lupa akan semua apa yang harus dilakukan
memenuhi nafsu adalah tujuan dari sebuah pencarian
persetan dengan kau..
tak ada larangan dalam kehidupan yang fana
sambil berfoya-foya dan angkat segelas bir
ketika semua telah lenyap dan datanglah derita
pada akhirnya sumpah serapah keluar dari bibir
Pare 08/02/2014 13:14
Sajak terahir untukmu
Posted on 09.49
by Baim Muhammad
hujan deras membasahi kota ini
hanyutkan semua yang mulai bersemi
sebuah bibit bunga yang kutanam setelah kau ungkapkan
kini telah di hanyutkan oleh air hujan
saat kau meminta sebuah belaian manis
ku turuti itu agar kau tak lagi menangis
ketika bunga itu telah menampakkan keindahannya
kau memintaku untuk sirnahkan bunganya
untuk sebuah alasan yang kaupun tak tau maknanya
dan sekarang aku mencoba untuk memendam bunganya
hingga difosilkan oleh sang waktu
hingga dimusnahkan oleh sang maha tau
hujan sore ini menutup semua skenario buatanmu
dan sang waktu menjadi saksi bisu atas semua ucapanmu
Pare 09/02/2014 13:37
Alih tuhan akanku
Posted on 09.49
by Baim Muhammad
bunga malam ini kini mulai layu dan semerbak wangi itu telah hilang
mungkin prasangka ini benar adanya
dari pertama aku merenggut senyummu
dari pertama aku bertekuk lutut didepanmu
mata yang akan terus memandang kematian
ujung yang diharapkan berbunga kebahagiaan
kini telah kau balikkan pandang
dari satu titik yang diinginkan akan datang
yaitu sebuah kenikmatan madu yang dibawa oleh kumbang
yang diambil dari tanah-tanah gersang
hai sang kumbang...
bukan aku ini seorang bajingan pemaksa perasaan
dan bukan pula seorang pemilik hati yang tuli
andai kau baca syair-syair sang sufi cinta
tentulah hatimu akan tergoyahkan akan segala perkataan
namun berbeda itu pasti tak sama atau hanya sekedar sama nama
mungkin juga sebuah tabir penutup gelap
melindungi dirinya dari segala rasa malu yang kini mulai merayap
memiliki sekuntum atau setaman bunga bangkai
yang akan dijamah namun tak sampai
duhai bunga yang terasa manis....
berbahagialah setelah berpindah dari hati ke hati
atau dari hidup menuju mati
karna harum mawar dan manis madu takkan pernah menyentuhmu sampai mati
sampai kau masih cinta dengan uniknya hati
peduli apa aku dengan itu
karna kau tak pernah memberiku mawar merah
dan jangan berfikir akan hidup ditaman yang gersang ini
dan sekali lagi peduli apa aku dengan sajak busukku
tuhan mungkin berencana lain
tetang semua kisahku yang kutulis dengan sajak ini atau yang lain
Pare 13/02/2014 4:26
Debu rindu
Posted on 09.48
by Baim Muhammad
lama tak melihat indah senyumanmu...
saat mentari mengepakkan sinarnya, aku diam tersipu
memandang bunga mawar yang tumbuh dihalam depan rumahku
dan bunga mawar itu sekarang sudah ternodai oleh debu
lama aku merindukan canda tawamu...
telah dahaga batinku merindukan itu
kemana lagi aku harus lampiaskan rinduku?
mendekap bayangmu sudah tak lagi bisa hapuskan rasa itu
Pare 18/02/2014 11:49
Kini semua terbungkam
Posted on 09.48
by Baim Muhammad
hanya sesaat membungkam sebait sajak
sehabis bait yang kubaca akan ku bajak
separuh dunia yang kita huni, mulai rusak
pohon yang indah, air jernih
yang kita lihat dan nikmati bersama kini goyah
aku berfikir sejenak dalam naungan langit malam
tak ada senyum ketika angin membungkam
secerah sinar mentari di pagi hari sunyi
secepat embun yang hilang dan kan menepi
ingin aku meneriaki sebuah lantunan isi hati
dengan jarak yang sekarang kita alami
air pasang akan menerjang dan terjerat kebisuan
mengikis batu menjadi sehampar pasir tak bertuan
di bait keempat ini selimut kepalsuan terbuka
menelanjangi setiap sudut-sudut intim dunia
yang mulai keruh akan kebosanan hidup
yang hilang ketika sinarmu mulai meredup
bingungku akan ranting-ranting hidupmu
jalan terjal yang kutapaki selalu suram
ada lobang yang dalam berisikan batu-batu tajam
kemudian akan ku lepas erat pelukanmu
jika kau bosan dengan sajakku di bait keempat
ajaklah pasir-pasir hitam berdiri merapat
pukul bayangan hitamku laksana gunung
getarkanlah bumi dan benci yang terbendung
Kediri 03/03/2014 2:20
Langganan:
Postingan (Atom)